Sedih, Mencuat Saat Rm. Maxi ‘Tiada’, Dengan Berat Hati Bupati Lay Klarifikasi Polemik Excavator Bantuan KKP

Sedih, Mencuat Saat Rm. Maxi ‘Tiada’, Dengan Berat Hati Bupati Lay Klarifikasi Polemik Excavator Bantuan KKP

ATAMBUA, Gerbangindonews. Com – Bupati Belu, Willybrodus Lay dengan berat hati memberikan klarifikasi sebagai penjelasan terkait pengelolaan excavator bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk umat Paroki Stella Maris Atapupu yang menjadi polemik saat ini.

Bupati Lay khawatir, klarifikasi sebagai penjelasan dirinya terkait polemik pengelolaan termasuk informasi liar yang beredar yang mengarah pada tuduhan dirinya menggelapkan excavator itu tidak dapat diterima oleh publik meskipum ada dokumen resmi berkaitan dengan excavator tersebut.

Pasalnya, selain dokumen resmi, Romo Maximus Alo Bria, Pr yang saat itu menjabat Pastor Paroki yang mengetahui persis bagaimana proses bantuan excavator itu diserahkan hingga dimanfaatkan namun Rm. Maxi sudah ‘tiada’ (almarhum).

“Saya tidak pernah ambil ini barang untuk saya, ini kita mau omong, Rm. Maxi almarhum sudah tidak ada. Kalau Rm. Maxi masih ada tidak begini,” ungkap Bupati Lay dengan nada pelan kepada media ini, Jumat (04/09/2020).

Meski demikian, Bupati Lay tetap memberikan klatifikasi sebagai penjelasan sehingga polemik terkait pengelolaan bantuan excavator tersebut tidak berkepanjangan.

Dalam penjelasannya, Bupati Lay menuturkan, pada tahun 2016 lalu,
hampir setahun menjabat sebagai Bupati (Pasca Pilkada Belu 2015), ada kunjungan salah satu Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Belu.

Dalam kunjungan itu, Dirjen melihat tambak warga tidak begitu dalam. Hal itu terjadi karena keterbatasan peralatan.

Kemudian Dirjen mengemukakan kalau butuh, ada excavator bantuan kementarian yang belum didistribusikan. Karena itu, perlu ada proposal untuk mendapatkan hibah tersebut.

Baca Juga  Dampak Covid-19, Ini Langkah Konkret Pemkab Belu

Namun jelas Bupati Lay, dalam perjalanan pengurusan administrasi, ada perubahan nomenklatur dan regulasi dimana tidak diperbolehkan adanya hibah oleh Pempus kepada Pemda. Hibah hanya diperbolehkan kepada kelompok masyarakat.

Melihat urgennya excavator itu, dirinya kemudian mengambil inisiatif untuk menyampaikan ke Almarhum Romo Maxi Alo Bria untuk membentuk kelompok masyarakat, sehingga bisa mendapatkan bantuan hibah excavator itu.

“Saat itu pas ada Rm. Maxi (almarhum), saya bicara dengan Romo, Romo bilang aduh ini Pak Bupati, ini gereja tidak bisa urus. Tapi saya bilang, tidak, maksudnya Romo tanda tangan saja dokumennya, nanti kalau gereja mau pakai juga boleh masyarakat mau pakai juga boleh. Tapi kalau di kelompok, nanti akan dikuasai oleh kelompok itu saja, tapi kalau di gereja itu kan universal, milik semua, termasuk umat lain dan masyarakat kelompok lain juga boleh pinjam. Romo menyetujui inisiatif itu kemudian membentuk kelompok Paroki Stella Maris Atapupu bersama beberapa masyarakat setempat,” tuturnya.

Selanjutnya bantuan excavator itu diserahkan, berita acara penyerahan ada dan digunakan untuk kebutuhan umat masyarakat Belu.

“Sampai di sini kan masyarakat pernah bawa ke Haekesak,  masyarakat pakai ada yang gali air di mana-mana termasuk di hali ulun, tirta, wematan, labour. Terakhir Pastor mereka juga pakai, gali fondasi gereja banyak tempat, termasuk di SVD,”

“Terus saat ecxavator ini operasi, ada yang bantu solar, ada yang tidak bantu solar, saya minta maaf secara pribadi saya bantu. Excavator ini yang pasti kan butuh maintenance seperti maaf ganti oli, ganti kuku, alat lain yang rusak itu saya keluarkan uang saya pribadi,” sambung Bupati Lay.

Baca Juga  Tahun Ini, Pemerintah Bangun 200 Unit Rumah untuk Warga Belu Senilai 31 Milyar

Bagaimana alat ini sampai di SVD, sampai di mana-mana untuk beroperasi (kerja), Bupati Lay mengaku ia sendiri juga tidak tau.

“Selama ini biasanya excavator ini simpan di PU. Tapi setiap kali mobilisasi keluar ini kan butuh biaya, butuh pengawalan. Saya bantu dan pakai uang pribadi. Mobilisasi itu bukan untuk saya, tapi dipakai kerja untuk kebutuhan warga atau umat. Selama ini exvavator simpan di mana saya tidak tau, saya hanya dikasi tau mau mobilisasi ke lokasi ini, butuh biaya mobilisasi saya bantu,” ungkap Bupati yang juga pengusaha sukses di Belu ini.

Excavator tersebut diketahui Bupati Lay bahwa sudah rusak saat beroperasi menggali sumur di STM Nenuk.

“Terakhir kerja di Nenum barang ini rusak, lalu mereka sampaikan ke saya, saya suruh mekanik datang lihat, mekanik datang lihat, mekanik  saran ke saya, kita muat bawa ke kita punya bengkel supaya ada waktu kami bisa bongkar liat apa yang rusak. Setelah bongkar lihat yang rusak arm boomnya, katanya harganya kurang lebih 34-35 juta. Saya bilang jangan bongkar lagi dulu, saya cari uang, dapat uang dulu baru perbaiki. Jadi karena belum ada uang, excavator itu masih simpan di AMP sampai hari ini. Kalau saya ada uang, dan sudah perbaiki, mungkin sudah tidak simpan lagi di AMP. Bisa saja simpan dan bongkar di tempat SVD saat rusak, tapi kan takut tidak ada yang jaga dan ada alat lain yang hilang ya bawa ke AMP biar aman,” katanya.

Baca Juga  Dukung Program Unggulan Gubernur NTT, Bupati Belu Canangkan Program TJPS di Ainiba

Terkait informasi bahwa dirinya berupaya menggelapkan excavator tersebut, Bupati Lay dengan tegas membantahnya.

“Barang besar begini saya mau gelapkan bagaimana? Minta maaf ya, barang ini butuh perawatan, dan perawatan selama ini saya rela keluarkan uang saya pribadi. Padahal saya tidak pernah pakai.
Kalau saya pakai pribadi, boleh dikatakan saya galapkan, tapi ini untuk seluruh umat masyarakat Kabupaten Belu,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pasca diterimanya excavator itu, begitu banyak permintaan untuk dimanfaatkan. Diantaranya penggalian sumur resapan Ainiba, pengerukan sejumlah tambak di Kolam Susuk, pembuatan tambak di SMK Perikanan Atapupu, kolam ikan dan gali sumur di kimbana, pelebaran lapangan Paroki Halilulik, pembuatan teras di kantor Camat Tasbar, pembuatan tambak ikan di Haekesak, pembuatan sumur di Asuulun, pembuatan penampungan air di Raiiukun dan pembuatan embung di Lelowai. Selain itu digunakan untuk menggali fondasi gereja Paroki Nela.

Selanjutnya, exca digunakan untuk menggali bak air dan akar pohon atau buka lahan baru di STM Nenuk, dan terakhir penggalian sumur di STM Nenuk dan terjadi kerusakan hingga saat ini.

[A-01/Gin-Adv Kominfo Belu]

10

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: