Kisah Nenek Marta, Warga Eks Timor-Timur di Belu Bertahan Hidup dengan Batu Kali

Kisah Nenek Marta, Warga Eks Timor-Timur di Belu Bertahan Hidup dengan Batu Kali

ATAMBUA, Gerbangindonews. Com – Marta Maya (69) yang akrab dikenal Nenek Marta, salah seorang warga Eks Timor-Timur sudah 20 tahun meninggalkan kampung halamannya pasca jajak pendapat dan konflik tahun 1999 di Timor-Timur (Timor Leste-red).

Ia memilih meninggalkan kampung halamannya di Ermera (Eks Kabupaten saat Timor Leste masih menjadi Propinsi ke-27 dari Indonesia) karena cinta NKRI.

Kini ia bersama seorang cucu yang masih duduk di bangku SD menetap dan tinggal di sebuah gubuk di lolowa, Kelurahan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Perbatasan RI-Timor Leste.

Sementara kedua orangtua dari cucu Nenek Marta memilih pulang dan kembali ke Timor Leste.

Dikunjungi media, Selasa (19/11/2019) nampak Nenek Marta tinggal di sebuah gubuk beratap seng bekas juga berdinding seng bekas dan bebak (pelepah pohon gewang).

Lahan tinggal Nenek Marta pun bukan lahan (tanah) milik pribadi. Tetapi milik seorang pengusaha yang berbaik hati sehingga masih mengizinkan Nenek Marta menempati lahan itu.

Baca Juga  Kabar Duka, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Belu Mendadak Meninggal

Lahan itu ditempati Nenek Marta bersama 5 Kepala Keluarga lainya.

Nenek Marta mengisahkan, untuk bertahan hidup, ia harus memecah batu kali jadi kerikil untuk di jual pada yang membutuhkan dengan harga seadanya.

Pasanya, pemerintah sepertinya tidak peduli lagi dengan keberadaan dan nasib mereka.

“Kami ini sudah tinggal di sini dari awal datang, tahun 1999 lalu. Kami memilih bergabung ke indonesia, karena cinta akan merah putih, namun sampai di sini, kami susah sekali dan pemerintah, sepertinya sudah tidak mau bantu kami lagi,” ungkap Nenek Marta.

Setiap hari, Nenek Marta mengaku hanya memecah batu kali jadi kerikil yang diambil dari kali untuk di jual dengan harga per karung atau persak semen 15 sampai 20 ribu.

Aktivitas pecah batu kali jadi kerikil itu dilakukan Nenek Marta secara manual menggunakan hamer atau palu hanya di depan rumah.

Baca Juga  Diduga Kalah Judi, Kades Nanaet Hajar Warga Sampai Babak Belur

“Jual buat beli makanan, beli ubi kayu, ubi jalar, jagung dan beras satu atau dua kilo, supaya bisa bertahan hidup,” kisah Nenek Marta.

“Kalau, batu-batu ini, orang tidak beli, ya malam kita tidur tidak makan e anak,” sambung Nenek Marta berderai air mata.

Ketika di tanya, kenapa masih tinggal di tempat ini, Nenek Marta mengaku hanya ini satu-satunya pilihan tempat untuk ditinggali karena tidak ada lagi tempat lain.

“Ini adalah satu-satunya gubuk yang dimiliki. Ini juga numpang di tanah milik orang (bos dong punya), ini kan orang punya pusaka. Mau kembali ke Timor Leste, tapi uang tidak ada. Mau makan saja, saya setengah mati, apa lagi dapat uang untuk kembali ke Timor atau pindah di tempat yang lebih baik,” urai Nenek Marta.

Nenek Marta menuturkan, sebenarnya ia sudah tidak betah lagi tinggal di rumah ini, karena listrik tidak ada dan tiap hari rasa kekwatiran selalu menghantui jika tuan tanah meminta untuk tinggalkan lahan ini.

Baca Juga  Maek Bako: Pengakuan Poktan dari Tak Terima hingga Terima Bibit Rusak, Polisi Serius Dalami

Kepada pemerintah, Nenek Marta tidak mengharapkan perhatian dan bantuan.

“Mau minta ke pemerintah juga, saya tidak berani. Jadi, kalau mau bantu kami juga baik, kalau tidak bantu juga tidak apa-apa,” kata Nenek Marta dengan isak tangis.

Untuk diketahui, masih banyak nasib WNI Eks Timor-Timur yang mengalami nasib serupa dengan Nenek Marta bahkan lebih parah lagi karena tidak ada perhatian dari Pemerintah Indonesia.

Kondisi yang mereka alami seperti tidak punya lahan tinggal, rumah tidak layak huni, anak tak berpendidikan (tidak sekolah), tak punya mata pencaharian dan masalah sosial lainnya yang dialami.

[gin/mp]

927

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: