Keluarga Mayat TKI Diduga Organ Tubuhnya Diambil Mengadu ke DPRD Belu

Keluarga Mayat TKI Diduga Organ Tubuhnya Diambil Mengadu ke DPRD Belu

ATAMBUA, Gerbangindonews. Com – Keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Belu, Yanuarius Bruno Kehi (30) yang diduga organ tubuhnya diambil mengadu ke DPRD Belu, Rabu (08/01/2020).

Pantauan gerbangindonews.com, keluarga TKI Yanuarius diterima langsung Wakil Ketua II DPRD Belu, Cyprianus Temu, Ketua Komisi II, Theodorus Seran Tefa dan Anggota DPRD Belu, Aprianus Hale dan Edmundus Nuak di ruang kerja Wakil Ketua II DPRD Belu.

Turut hadir, Kadis Nakertrans Kabupaten Belu, Laurentius Kiik Nahak dan perwakilan KPTKI Belu.

Dalam pengaduan, keluarga menyampaikan bahwa pihak keluarga tidak puas dengan kondisi jenazah Yanuarius. Diduga organ tubuh jenazah tidak ada.

Keluarga curiga karena di tubuh jenazah sepanjang dagu hingga perut terdapat jahitan.

Oleh karena itu, keluarga meminta Pemda dan DPRD Belu untuk membantu memfasilitasi mempertanyakan ke pihak yang berwenang kecurigaan keluarga terhadap kondisi jenazah.

Menanggapi itu, Kadis Nakertrans Belu, Laurentius Kiik Nahak menuturkan bahwa pihaknya mempunyai tupoksi yakni mengurus TKI yang legal, dan kalau legal pasti kedutaan besar yang ada di negera tempat bekerja melindungi.

Terkait dengan korban TKI asal Mandeu yang meninggal beberapa waktu lalu pihaknya akan mempelajari dokumen korban. Sebab kontrak kerja TKI dengan perusahaan hanya dua tahun, apabila lebih maka illegal.

Baca Juga  Uskup: Pengawasan Orang Baru di Belu Belum Efektif

“Kontrak kerja hanya dua tahun, lebih dari itu illegal, dan untuk perpanjang kontrak kerja warga TKI harus kembali ke daerah. Kalau dokumen komplit kami tanggunganjawab, kami dampingi sampai selesai hak-haknya akan diterima,” urai Nahak.

Menurutnya, saat ini cukup banyak warga Belu yang bekerja sebagai TKI illegal di negara Malaysia dan negara tetangga lainnya. Dinas coba diskusikan dengan Pemerintah Daerah sehingga bisa ke negara TKI bekerja.

Hal itu bertujuan untuk mengidentifikasi para TKI illegal dan memproses agar keberadaan mereka legal kemudian dipekerjakan ke perusahaan sehingga status mereka bekerja legal dan dilindungi hukum.

Wakil Ketua II DPRD Belu, Cyrpianus Temu mengemukakan usulan Dinas menjadi catatan untuk dibahas lebih lanjut.

Pasalnya, ini penting dalam mengantisipasi
masalah sehingga TKI bekerja dengan aman dan dilindungi.

“Sebaiknya legalkan yang illegal dan mau tidak mau harus kita lakukan agar tidak ada lagi TKI Belu yang jadi korban. Kami akan bahas bersama pimpinan tertinggi dan akan jadikan agenda kerja Dewan,” katanya.

Baca Juga  Sosok Sekda Belu Defenitif Rekomendasi Bupati Lay

Terhadap pengaduan keluarga TKI Yanuarius, kata Cypri, Komisi II DPRD Belu bersama Pemda Belu dalam hal ini Dinas Nakertrans dan KPTKI Belu akan konsultasi dan berkoordinasi ke Dinas Ketenagakerjaan dan BP3TKI Provinsi, Kamis (09/01/2020).

Ketua Komisi II DPRD Belu, Theodorus Seran Tefa menambahkan konsultasi tersebut terkait dengan aspirasi orang tua dan keluarga korban TKI Yanuarius Bruno Kehi.

Ada ketidakpuasan dari orang tua dan keluarga korban dengan jahitan pada jenazah dimana indikasi kuat organ tubuh korban diambil.

“Agenda kita besok konsultasi dengan Disnakertrans Provinsi dan BP3TKI terkait keraguan keluarga yang pertanyakan kondisi jenazah korban yang dijahit, dimana keluarga menduga ada yang tidak benar seperti kejadian lain diduga organ tubuh diambil,” ujarnya.

Theo meminta kepada keluarga korban TKI untuk bersabar sambil menunggu hasil konsultasi yang mana keluarga menginginkan agar jenazah korban diautopsi untuk memastikan keraguan keluarga atas jahitan pada tubuh korban.

“Jawaban dari konsultasi seperti apa akan kami sampaikan kembali ke keluarga. Harapan keluarga untuk pastikan status jahitan pada tubuh korban dibelah apakah diambil organ atau hanya melihat saja,” pungkasnya.

Baca Juga  Mendagri Pastikan Pilkada 9 Desember dan Instruksikan Kepala Daerah Cairkan Dana Pilkada

Untuk diketahui, informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, korban berangkat ke Malaysia pada tahun 2014 bersama saudari korban, Anastasia Abuk (Kakak kandung korban).

Dua tahun berjalan, saudari korban kembali ke kampung halaman dan korban tetap di Malaysia dan bekerja sebagai buruh pabrik.

Sementara, korban meninggal pada, Kamis (19/12/2019) waktu malaysia karena kecelakaan lalu lintas.

Selanjutnya, jenasah korban dikirim dari Malaysia dan tiba di Kupang pada Senin (23/12/2019) di antar oleh teman dan keluarga hingga tempat tujuan di Dusun Kota Ikun, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu.

Jenazah sudah dimakamkan kelurga bersama peti jenasah yang dikirim dari Malaysia dan tidak dibuka sehingga tidak dapat memastikan organ tubuh bagian dalam jenazah masih utuh atau tidak.

[A-01/Gin]

55

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: