Kadis Akui Porang Milik Pemda Belu Telan 1,3 M Gagal

Kadis Akui Porang Milik Pemda Belu Telan 1,3 M Gagal

ATAMBUA, Gerbangindonews. Com – Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu mengakui porang (Maek Bako) milik (budidaya) Pemda Belu di Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu gagal.

Maek Bako yang menelan anggaran 1,3 Miliar dan dibudidaya Pemda Belu itu gagal karena tak nampak banyak tumbuh diatas lahan seluas 40 Ha itu.

Pengakuan Kadis Gerardus itu disampaikan ketika dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon selularnya, Rabu (12/02/2020).

“Saya juga baru masuk, lahannya Pemda itu memang kita tanam 2017. Kemarin sebelum kunjungan kami kan ke lapangan, banyak Maek Bako (porang) itu sudah digali. Tapi ada yang tumbuh, artinya bahwa memang ada Maek yang ditanam. Memang kita mau ke situ (lahan Pemda Belu), tapi sangat jarang sekali. Tumbuh tapi satu dua pohon,” kata Kadis.

Baca Juga  Perlebar Jalan Menuju Bandara, Pemda Belu Siapkan 2,5 M untuk Pembebasan Lahan

Dijelaskan Kadis, porang milik Pemda Belu gagal karena banyak yang dicuri warga.

“Iya, Itu karena ada yang curi seperti kita dengar sendiri dari masyarakat. Yang mereka jaga juga ada orang yang cari,” sebut Kadis.

Namun demikian, Kadis mengakui kegagalan Pemda Belu dalam membudidaya porang yang sudah menelan anggaran Milyaran itu lantaran tidak adanya pengawasan.

“Sebenarnya, iya saya tidak mengatakan gagal. Saya terus terang masuk ke sana baru di Juli tahun 2019, kurang memantau itu. Tapi satu hal menjadi kelemahan itu pengawasan. Kemarin Pak Gubernur sudah bilang kehutanan itu harus dikawal polisi kehutanan. Karena tanpa dikawal akan menjadi percuma kita tanam di situ,” akui Kadis.

Baca Juga  Jelang Kunjungan Menteri, Pegawai BNPP di Mota'ain Jalani Rapid Test

Lebih lanjut Kadis menambahkan, meski Pemda Belu gagal membudidayakan porang, namun saat ini masyarakat sangat antusias dan berminat untuk budidaya komoditi yang bernilai ekonomis tinggi tersebut.

Pihaknya ungkap Kadis, sangat kewalahan untuk mengadakan bibit atau benih untuk diberikan kepada masyarakat karena keterbatasan anggaran.

“Dulu mereka tidak mengenal ini porang, jadi orang tidak tau manfaatnya seperti apa. Ketika ini pasarannya sudah cukup bagus, semua orang ya kita lihat permintaan di kami itu hampir dari kelompok masyarakat itu sangat banyak sekali, terutama di utara. Kita dana juga tidak cukup jadi pengadaannya tidak banyak, tapi ada tanggapan dari Gubernur kan mau bantu kelompok-kelompok itu,” pungkasnya.

Baca Juga  Kawal Proses Hukum Maek Bako, Ini Langkah DPRD Belu

“Ada sisi positif dari Maek itu karena itu stimulan. Artinya kita mendorong masyarakat yang tadinya tidak tau sama sekali, ketika ini porogram turun, semua berlomba-lomba. Buktinya banyak yang dibudidaya masyarakat dan banyak yang tumbuh,” tutup Kadis Gerardus.

[A-01/Gin]

93

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: