Ditinjau Gubernur, Pemda Belu Sembunyikan Lahan Porang 1,3 M Gagal

ATAMBUA, Gerbangindonews. Com – Pemerintah Daerah (Pemda) Belu dinilai telah menyembunyikan lahan budidaya porang milik Pemda Belu saat akan ditinjau Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Selasa (12/02/2020).

Upaya itu dilakukan lantaran porang milik Pemda Belu yang dibudidaya di atas lahan seluas 40 Ha dengan sebagian anggaran senilai 1,3 M tepatnya di Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu itu gagal.

Hal itu diketahui saat Gubernur VBL begitu akrab dikenal saat meninjau porang di lokasi, malah diarahkan ke lokasi budidaya milik warga sekitar.

Wakil Ketua II DPRD Belu, Cyprianus Temu menyampaikan hal itu ketika dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon selularnya, Rabu (12/02/2020) siang.

“Harus berani terbuka dan jujur, kalau orang minta lokasi porang untuk ditinjau, tunjuk yang punya pemerintah, baru bandingkan dengan yang punya rakyat, jangan sembunyi,” tegas Cypri Temu begitu akrab dikenal.

Pemerintah kata politisi NasDem itu harus jujur menyampaikan bahwa porang yang dibudidaya pemerintah itu gagal. Selanjutnya perlu dicarikan solusi kenapa harus gagal.

“Tunjukkan itu, kalau Gubernur datang bahwa ini kami punya gagal, ini uang sekian, secara transparan, jangan sembunyi,” katanya.

Baca Juga  Mengenal Benny Manek dan Kiprahnya di Parlemen Belu

Anggota DPRD Belu empat periode itu menegaskan, sikap Pemda Belu menyembunyikan lokasi budidaya porang yang gagal itu sangat konyol.

“Harus jujur mengatakan bahwa ini tidak berhasil, ini gagal. Sehingga kalau gagalnya itu dilakukan oleh oknum yang memproyekkan ini barang, dicari akar persoalannya. Periksa, kan seperti Itu,” tandas Cypri.

Pihaknya tambah Cypri, akan segera menggelar rapat dengan menghadirkan pihak inspektorat Belu untuk membahas bersama program porang (Maek Bako) yang menelan anggaran Milyaran tetapi gagal.

“Dalam waktu dekat, saya akan minta Komisi I untuk segera rapat dengan inspektorat untuk cek sejauh mana dia punya pengawasan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu mengakui porang (Maek Bako) milik (budidaya) Pemda Belu di Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu gagal.

Maek Bako yang menelan anggaran 1,3 Miliar dan dibudidaya Pemda Belu itu gagal karena tak nampak banyak tumbuh diatas lahan seluas 40 Ha itu.

Pengakuan Kadis Gerardus itu disampaikan ketika dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon selularnya, Rabu (12/02/2020).

Baca Juga  DPRD Belu Desak Polisi Proses Hukum Anak Boss Timor Permai yang Diduga Aniaya ODGJ

“Saya juga baru masuk, lahannya Pemda itu memang kita tanam 2017. Kemarin sebelum kunjungan kami kan ke lapangan, banyak Maek Bako (porang) itu sudah digali. Tapi ada yang tumbuh, artinya bahwa memang ada Maek yang ditanam. Memang kita mau ke situ (lahan Pemda Belu), tapi sangat jarang sekali. Tumbuh tapi satu dua pohon,” kata Kadis.

Dijelaskan Kadis, porang milik Pemda Belu gagal karena banyak yang dicuri warga.

“Iya, Itu karena ada yang curi seperti kita dengar sendiri dari masyarakat. Yang mereka jaga juga ada orang yang cari,” sebut Kadis.

Namun demikian, Kadis mengakui kegagalan Pemda Belu dalam membudidaya porang yang sudah menelan anggaran Milyaran itu lantaran tidak adanya pengawasan.

“Sebenarnya, iya saya tidak mengatakan gagal. Saya terus terang masuk ke sana baru di Juli tahun 2019, kurang memantau itu. Tapi satu hal menjadi kelemahan itu pengawasan. Kemarin Pak Gubernur sudah bilang kehutanan itu harus dikawal polisi kehutanan. Karena tanpa dikawal akan menjadi percuma kita tanam di situ,” akui Kadis.

Baca Juga  AKD DPRD Belu, Benny Manek Pimpin Komisi I

Lebih lanjut Kadis menambahkan, meski Pemda Belu gagal membudidayakan porang, namun saat ini masyarakat sangat antusias dan berminat untuk budidaya komoditi yang bernilai ekonomis tinggi tersebut.

Pihaknya ungkap Kadis, sangat kewalahan untuk mengadakan bibit atau benih untuk diberikan kepada masyarakat karena keterbatasan anggaran.

“Dulu mereka tidak mengenal ini porang, jadi orang tidak tau manfaatnya seperti apa. Ketika ini pasarannya sudah cukup bagus, semua orang ya kita lihat permintaan di kami itu hampir dari kelompok masyarakat itu sangat banyak sekali, terutama di utara. Kita dana juga tidak cukup jadi pengadaannya tidak banyak, tapi ada tanggapan dari Gubernur kan mau bantu kelompok-kelompok itu,” pungkasnya.

“Ada sisi positif dari Maek itu karena itu stimulan. Artinya kita mendorong masyarakat yang tadinya tidak tau sama sekali, ketika ini porogram turun, semua berlomba-lomba. Buktinya banyak yang dibudidaya masyarakat dan banyak yang tumbuh,” tutup Kadis Gerardus.

[A-01/Gin]

35

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: